Serangan Siber dalam Bisnis Online: Waspada dan Kenali Bahayanya

  • 08 Jun 2020
  • Ahmad Surya Hidayat
  • 544

Serangan Siber dalam Bisnis Online: Waspada dan Kenali Bahayanya

Bagi Anda yang memiliki bisnis online, tentu aktivitas bermedia sosial sudah jadi rutinitas. Ya, dengan media sosial rasanya semua hal bisa dilakukan, termasuk melakukan jual-beli, pengiriman serta pembayaran suatu produk secara daring (dalam jaringan).

Tetapi tahukah Anda, apa saja bahaya yang dapat mengintai dalam bisnis online? Mengutip dari yang disampaikan Leontinius Alpha selaku Vice Chairman & Co-Founder Tokopedia, “kejahatan siber merupakan ancaman tersendiri bagi kalangan pelaku bisnis online commerce.”

Nah, berhati-hatilah! Karena serangan siber dalam bisnis online sangat rentan terjadi. Apa sajakah ancaman siber bagi pelaku bisnis online? Untuk mengetahui lebih jelasnya, silakan simak ulasan Serangan Siber dalam Bisnis Online: Waspada dan Kenali Bahayanya.

Serangan Siber dalam Bisnis Online Mengintai Anda!

Berdasarkan data dari Bank Indonesia, jumlah transaksi e-commerce per bulan pada tahun 2019 saja tercatat mencapai Rp 13 triliun. Sementara, Survey Perilaku Belanja Online 2019 yang dirilis Pusat Data dan Analisa Tempo (PDAT), pembayaran elektronik adalah yang paling banyak diminati. Metode ini diminati baik oleh laki-laki maupun perempuan dan di semua kelompok usia.

Motif yang sering terjadi pada konsumen bisnis online adalah penipuan untuk membayar sejumlah uang padahal barangnya tidak dikirim atau sebaliknya. Tetapi, hal yang sering terjadi adalah SMS hadiah palsu yang mengatas namakan suatu E-commerce.

Hal ini menandakan bahwa sangat mudahnya konsumen daring tertipu, padahal sudah ada peringatan untuk tidak melakukan transaksi di luar mitra perusahaan.

Menurut data laporan Symantec, Internet Security Threat Report Volume 24 yang dirilis pada Februari 2019 lalu, Indonesia tercatat di posisi kelima sebagai negara yang paling banyak mendapatkan ancaman siber pada 2018 untuk kawasan Asia Pasifik dan Jepang.

Kejahatan siber bisa terjadi kapan saja dan tak pernah bisa diprediksi, selayaknya kejahatan yang terjadi di dunia nyata. Telebih lagi, kejahatan ini lebih mudah dilakukan karena target serangan hanya komputer atau jaringan internet.

Saat ini target serangan siber semakin meluas karena tren penggunaan barang-barang internet (IoT) selain telepon pintar (smartphone) di masyarakat. Medium utamanya adalah Media sosial, sasaran empuk bagi para peretas.

Kebanyakkan pengguna Media Sosial tidak terlalu memperhatikan etika dalam berbagi informasi pribadi. Mereka cenderung asal memajang nomor telepon, alamat surel bahkan alamat rumah mereka. Hal inilah yang memicu kejahatan siber oleh para oknum.

Macam-macam Kejahatan Siber

Terdapat dua sebutan berbeda untuk kejahatan siber yaitu, the real cyber crime dan cybercrime tipu- tipu. The real cyber crime merupakan kejahatan kelas tinggi di mana pelakunya memiliki kemampuan tinggi dalam meretas serta menghancurkan algoritma yang dimiliki perusahaan.

Sedangkan, cybercrime tipu-tipu ialah kejahatan yang sering dilaporkan oleh para konsumen di mana para oknum melakukan muslihat untuk mendapatkan keuntungan secara pribadi.

Tipe kedua dalam serangan siber ini sering terjadi karena kurangnya pemahaman masyarakat terhadap modus-modus yang dilakukan oleh oknum, berupa:

· Phishing, metode penipuan untuk mengelabui target dengan maksud mencuri akun target. Phising banyak memakan korban di ranah media sosial karena banyak penggunanya. Pengguna tanpa sadar akan masuk ke halaman jebakan berupa halaman palsu. Bisa juga manipulasi suatu halaman website sehingga tampak seperti asli, sebab komputer terinfeksi virus.

· Online Extortion, pelaku kejahatan melakukan pemerasan dari keuntungan finansial. Umumnya diawali dengan serangan malware atau ransomware, seperti ancaman video porno atau lainnya.

· Fraud, biasanya membobol toko online, jaringan perhotelan, perbankan, dengan mencuri data kartu kredit atau debit konsumen. Ini diawali dengan phising, menyuntikkan malware ke sistem informasi korban.

· Spionase, misalnya terjadi pada peretasan data WhatsApp. Ini biasa dilakukan dengan malware yang ditanam pada perangkat seluler atau komputer, bisa juga perangkat fisik seperti kamera pengintai (CCTV). Penyusupan dapat dilakukan melalui SMS, email, maupun serangan phising lain.

Penanggulangan Penipuan Siber terhadap Bisnis Online

Berbagai upaya dari sisi penjual telah dilakukan untuk mencegah serangan siber dalam bisnis online. Salah satunya dengan merekrut tim IT untuk menstabilkan media sosial agar tak dijangkau oleh peretas, atau membentuk tim sweeping guna melihat pola modus penipuan yang sedang marak.

Kemudian pencegahan tersebut dilaporkan kepada pemerintah agar menjadi saran perbaikan untuk undang-undang tentang kejahatan siber yang lebih kompleks.

Tak berhenti di situ, secara sistem, pihak penyedia lapak bisnis online juga telah menambahkan fitur-fitur untuk meminimalisir kejahatan siber seperti fitur skoring, ulasan, dan informasi tingkat keberhasilan transaksi.

Itulah penjelasan mengenai bahaya serangan siber dalam berbisnis online. Dengan adanya pembaharuan secara berkala tentang modus-modus yang dilakukan diharapkan dapat meminimalisir kejahatan siber pada bisnis daring saat ini.

Bagi para pengguna media sosial, Anda bisa segera mengaktifkan fitur verifikasi dua langkah atau lapisan keamanan ekstra yang terdapat pada setiap pengaturan akun. Berhati-hatilah dalam berbisnis maupun berbelanja online. Selalu sigap dan waspadalah!


Leave a Reply