Apa Saja Bisnis Ritel yang Anda Tahu?

  • 09 Jul 2020
  • Krisna Arya
  • 1807

Apa Saja Jenis-Jenis Bisnis Ritel yang Anda Tahu?

Picture by Vecteezy

Bisnis ritel ternyata sudah ada cukup lama ada di Indonesia. Perkembangannya hingga kini masih terus berlangsung. Namun, apakah Anda sudah mengerti apa yang sebenarnya dilakukan bisnis ritel dan bagaimana bisnis ini masih dapat bertahan? Jika Anda ingin mengetahui lebih jauh, simaklah artikel ini lebih dalam.

Pengertian Bisnis Ritel

Menurut Wikipedia, arti dari eceran atau ritel adalah salah satu cara pemasaran produk meliputi semua aktivitas yang melibatkan penjualan barang secara langsung ke konsumen akhir untuk penggunaan pribadi dan bukan bisnis. Artinya bisnis ritel adalah mata rantai terakhir dalam penyaluran barang dari produsen ke konsumen.

Bisnis ritel telah menjadi hal yang dibutuhkan oleh produsen, karena produsen dapat memperoleh informasi seputar produk mereka di mata konsumen, seperti komentar konsumen akan bentuk, rasa, daya tahan, harga, dan terutama kesan yang akan mempengaruhi produksi produk mereka ke depannya.

Bisnis ritel juga telah menjadi hal penting dalam kehidupan konsumen seperti Anda. Bisnis ritel mempunyai fungsi sebagai agen yang membeli, mengumpulkan, dan menyediakan barang atau jasa sehingga konsumen dapat memperolehnya secara lebih mudah unruk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Jenis-Jenis Bisnis Ritel

Dalam kehidupan sehari-hari, mungkin Anda tidak sadar bahwa ada beberapa toko atau badan usaha yang termasuk ke dalam bisnis ritel dan berbagai bisnis ritel ini dikategorikan ke dalam tujuh kategori, yakni berdasarkan status kepemilikan, skala usaha, produk/jasa yang dijual, tempat berlangsungnya transaksi, bentuk hukum, ukuran outlet, dan struktur operasionalnya.

1. Status Kepemilikan

Picture by Vecteezy

 

a. Ritel Independen

Yang dimaksud ritel independen adalah salah satu jenis ritel yang bergerak secara sendiri atau indepnden tanpa campur tangan pihak lain (afiliasi). Ada banyak contoh ritel independen, seperti warung, toko, kios, toko yang dikelola koperasi, dan ruko.

Rtiel independen masih bisa bertahan karena ada tiga faktor yang dimiliki, yakni letak geografis, ukuran pasar, dan karakteristik produk. Ritel indenden dinilai memiliki nilai ekonomis karena ukuran pasaranya yang kecil dan perputarannya yang lambat, sehingga sangat tepat jika dijalankan di daerah yang populasinya kecil, seperti di desa, kecamatan, kabupaten, di tempat wisata dan lain sebagainya.

b. Waralaba (Franchising)

Waralaba merupakan jenis ritel yang memiliki ikatan antara sebuah induk perusahaan (franchisor) dengan berbagai perusahaan maupun individu (retailer) yang mana hak induk perusahaan tersebut dapat digunakan oleh Anda yang ingin menjalnakan bisnis secara independen, dengan ketentuan atau peraturan yang sudah ditetapkan oleh induk perusahaan.

Hak yang didapatkan dari perusahaan induk pada dasarnya meliputi merek, nama, sistem, dan prosedur namun status kepemilikannya tetap ada pada perusahaan induk . Contoh ritel jenis ini ialah Alfamart, Indomaret, Mc Donald dan KFC.

c. Corporate Chain

Corporate chain ialah ritel dengan gabungan beberpa jenis bisnis yang berbagi merek, manajemen pusat, hingga praktik bisnis yang sama, sehingga membentuk sebuah ikatan atau rantai (group) dalam sebuah lokasi yang sama pula. Maka tidak heran, jika pemilik saham dari ritel ini ialah suatu kelompok atau beberapa individu.

Contoh dari bisnis retail ini ialah Matahari Group, Robinson Group, Ramayana Group dan lain sebagainya.

2. Skala Usaha

 

Terdapat dua macam ritel berdasarkan skala usahanya yaitu ritel besar dan ritel kecil.

a. Ritel Besar

Merupakan pengecer yang menyediakan barang maupun jasa yang dijual dalam jumlah banyak sehingga membutuhkan tempat yang besar juga. Contoh dari jenis ritel ini yaitu department store, supermarket, hyper market, general store dan chain store.

b. Ritel Kecil

Ritel kecil atau pengecer tradisional, merupakan kebalikan dari ritel besar, dimana barang yang dijual biasanya dalam jumlah yang sedikit. Ada dua jenis ritel kecil yaitu ritel kecil yaitu ritel kecil berpangkal dan keliling.

3. Produk/Jasa yang Dijual

 

Berdasarkan kriteria produk atau jasa yang dijual, jenis bisnis ritel dapat dibagi menjadi dua yaitu sevice retailing dan product retailing.

a. Service Retailing

Ini merupakan jenis ritel dimana produknya berupa jasa atau layanan yang diberikan secara langsung kepada konsumen (end user). Ada tiga jenis service retailing yang diketahui:

· Rented Goods Service

Merupakan jenis ritel yang berupa penyewaan kepemilikian barang (menjual jasa) kepada konsumen, contohnya seperti jasa sewa apartemen, sewa CD, rental mobil dan lain sebagainya.

· Owned Goods Service

Ritel jenis ini biasanya merupakan ritel yang pelayanan jasanya berupa perbaikan dan modifikasi barang. Di sini, kepemilikan barang berada sepenuhnya pada konsumen. Contoh dari ritel jenis ini yaitu bengkel sepeda, bengkel motor, reparasi komputer dan lain sebagainya.

· Non-goods Service

Ritel ini menawarkan pelayanan jasa yang bersifat intangible (tidak berwujud), seperti keterampilan (skills). Contohnya seperti jasa supir travel, tour guide, tukang cukur, pengasuh bayi dan lain sebagainya.

b. Product Retailing

Ini merupakan jenis ritel dimana produk yang dijual berupa barang-barang kebutuhan sehari-hari. Ritel jenis ini terbagi lagi menjadi empat jenis, yaitu:

· Toko Serba Ada (Toserba/ Department Store)

Perusahaan eceran yang biasanya menawarkan pakaian, produk dan peralatan rumah tangga yang biasa tidak dijual di supermarket dan mempekerjakan sedikitnya 25 staf/karyawan dalam perusahaannya.

· Catalog Showroom

Catalog Showroom merupakan jenis ritel yang memiliki cara pembelian yang unik, yakni dengan blanko pemesanan. Ini deikarenakan barang-barang yang ditawarkan biasanya hanyalah barang-barang contoh yang dipajang. Hal yang menguntungkan bagi konsumen ialah harga yang dipasang relatif rendah namun berkualitas.

· Food and Drug Retailer

Ritel yang menawarkan produk berupa makanan dan obat-obatan ini terbagi menjadi tiga jenis utama lagi yaitu pasar swalayan (supermarket) dan superdrug store, convenience store serta combination store.

- Pasar swalayan dan Superdrug Store

Ritel atau toko-toko besar yang menjual makanan ataupun obat-obatan dalam jumlah besar dengan harga yang relatif rendah.

- Convenience store

Merupakan ritel swalayan mini yang menjual produk kebutuhan sehari-hari. Biasa berlokasi disekitaran tempat pemukiman penduduk dan beroperasi 24 jam, seperti Cirlcle K dan lain sebagainya.

- Combination store

Konsep dari ritel ini ialah penyatuan antara supermarket dan barang dagangan umum dalam satu fasilitas, dengan barang dagangan umum mencapai 25 hingga 40 persen dari penjualan. Produk yang dijual juga bermacam-macam, seperti makanan dan obat-obatan.

4. Tempat Berlangsungnya Transaksi

Picture by Vecteezy

 

Perkembangan teknologi membuat proses transaksi dapat terjadi di mana saja, seperti transaksi in store retailing (dalam toko) maupun non store retailing (luar toko).

a. In Store-Retailing

Penjualan dan transaksi terjadi di dalam toko atau warung antara penjual/karyawan dan pembeli. Prosesnya ialah pembeli memilih barang yang ingin dibeli, lalu dibayar pada kasir.

b. Non Store-Retailing

Merupakan ritel non-toko yang menjual produk dan jasanya di luar toko. Contoh dari non store retailing ialah direct sales, sirect marketing, vending machine, telemarketing, dan mail order.

· Direct Sales

Bisa dibilang direct sales merupakan non store-retailing yang pertama ada. Teknik penjualan yang digunakan dengan cara menawarkan produk dari rumah ke rumah. Teknik ini juga bisa digunakan untuk mempromosikan bisnis sehingga konsumen akan tertarik dan membelin secara langsung.

· Direct Marketing

Teknik ini diciptakan sebagai wujud dari perkembangan teknologi yang memanfaatkan internet untuk melakukan kegiatan bisnis. Biasanya konsumen akan memilih dan memebeli barang di website yang sudah disediakan oleh pemilik ritel.

· Vending machine

Vending Machine merupakan mesin transaksi dengan berbagai pilihan yang disediakan bagi konsumen. Mesin ini lazim ditemui di pasar swalayan, hotel, kantor, bandara maupun tempat-tempat umum lainnya.

· Telemarketing

Non store-retailing yang satu ini mengandalkan sales yang melakukan kontak dengan konsumen melalui telepon untuk mempromosikan barang maupun melakukan transaksi, sehingga biasa disebut dengan telephone selling.

· Mail order

Dalam ritel ini promosi hingga pemesanan dilakukan melalui katalog dan selanjutnya barang akan dikirimkan kepada konsumen lewat pos atau email.

5. Bentuk Hukum

Baik yang bersifat privat atau publik, ritel jenis ini terbagi menjadi ritel perorangan (ritel independen), kemitraan (partnership) yang memiliki dua atau tiga orang sebagai pemilik bsisnis, dan perseroan terbatas (PT) yang pemiliknya memiliki modal perusahaan berupa saham-saham. Di kala tertentu, perushaan berjenis PT dapat menjual saham mereka ke pihak lain tanpa harus membubarkan dan membangun lagi dari awal secara hukum. 

6. Ukuran Outlet

Untuk ritel berdasarkan klasifikasi ini telah diatur oleh peraturan Perpres №112 Tahun 2007 tentang penataan dan pembinaan pasar tradisional, pusat perbelanjaan toko modern dengan ketentuan:

a. Minimarket, berukururan kurang dari 400 m persegi.

b. Supermarket/Department Store, berukuran 400–500 m persegi.

c. Hypermarket dan Perkulakan (grosir), berukuran lebih dari 5000 meter persegi.

7. Struktur Operasional

Berdasarkan struktur operasionalnya, ritel ini terbagi menjadi ritel satu outlet (independent trader), ritel banyak outlet (multiple/chain store) dan consumer co-operative.

Kelebihan Bisnis Ritel

Setiap bisnis pasti memiliki kelebihan yang membedakan bisnis yang satu dengan bisnis yang lain, salah satunya ialah bisnis ritel. Ada beberapa kelebihan yang dimiliki bisnis ritel yang membuat Anda tertarik, baik sebagai penjual maupun pembeli.

1. Keterlibatan Pelanggan

Dalam lingkungan ritel, hubungan pelanggan menguntungkan Anda sebagai pembeli dan juga sebagai penjual. Outlet ritel memungkinkan Anda sebagai pelanggan untuk melihat apa yang Anda beli dari dekat dan, tidak seperti toko online, hal ini memberikan kepuasan instan, karena Anda bisa langsung pergi dengan apa yang Anda beli.

Staf yang ramah dan kooperatif juga membantu membangun loyalitas pelanggan, sehingga mereka akan merasa nyaman untuk kembali lagi. Dari sudut pandang bisnis, bisnis ritel memungkinkan Anda sebagai pelaku bisnis untuk menjangkau basis pelanggan yang lebih kuat jika dibandingkan dengan bisnis online.

2. Opsi Persediaan Lebih Besar

Jika dibandingkan dengan pasar grosir, penjualan ritel memberi Anda opsi inventaris yang lebih besar, karena tidak semua barang tersedia di pasar grosir. Sebaliknya, bisnis ritel dapat memperkaya inventarisnya, baik itu dengan memproduksi produk sendiri, membeli dari beberapa grosir, ataupun langsung membeli produl dari produsennya.

3. Potensi Penjualan Lebih Besar

Dengan outlet ritel, kemungkinan untuk mendapatkan untung bisa jauh lebih besar. Hal ini dikarenakan para konsumen cenderung membeli barang melebihi apa yang mereka butuhkan, setelah mereka berkeliling dan melihat produk yang Anda tawarkan.

Sebagai contoh, seorang pelanggan mungkin memasuki outlet mencari sepasang jeans, tetapi kemudian pulang dengan membeli jeans, tiga kemeja, ikat pinggang, dan dasi. Dengan menggabungkan berbagai barang dagangan di satu lokasi, Anda bisa secara dramatis meningkatkan potensi penjualan Anda.

Kesimpulan

Nah, demikianlah beberapa penjelasan mengenai bisnis ritel. Bisnis ritel bisa terbilang cukup menjanjikan bagi Anda yang bingung ingin memulai sebuah bisnis di Indonesia. Langkah selanjutnya yang harus Anda perhatikan ialah bagaimana bisnis ritel Anda akan mampu bertahan menghadapi persaingan dengan bisnis ritel lainnya yang telah dibangun jauh lebih dulu dari bisnis Anda.

Salah satu caranya yakni dengan memanfaatkan peran teknologi informasi untuk mendatangkan lebih banyak pembeli ke outlet Anda. Seperti mengandalkan media sosial untuk pengenalan bisnis maupun informasi-informasi; promo dan diskon yang ingin Anda bagikan ke calon konsumen.


Leave a Reply