4 Kondisi di Era New Normal yang Memengaruhi Ekonomi Kreatif

  • 08 Jun 2020
  • Ahmad Surya Hidayat
  • 664

4 Kondisi di Era New Normal yang Memengaruhi Ekonomi Kreatif

Ekonomi adalah salah satu sektor krusial yang terkena imbas Pandemi Covid-19 atau corona virus baru. Banyak pengusaha dari berbagai industri mengakui, kondisi ekonomi saat ini sangat berat.

Sri Mulyani, Menteri Keuangan Republik Indonesia, mengungkapkan bahwa hotel dan restoran merupakan sektor yang terkena langsung dan pertama kali dari pandemi ini. Padahal Penasehat Solo Creative City Network (SCCN) memprediksi, bidang kuliner adalah subsector Ekonomi Kreatif yang memiliki peluang besar di tahun 2020. Namun, saat ini malah mengalami setidaknya 50 persen penurunan okupansi.

Beberapa tahun terakhir, Ekonomi Kreatif memberikan kontribusi tinggi terhadap PDB Nasional. Pada tahun 2019 sektor Ekonomi Kreatif memberikan 1.105 triliun, meningkat jika dibandingkan dengan tahun 2017 yaitu sebesar Rp 1.009 triliun dan tahun 2016 sebesar Rp 992 triliun. Sedangkan untuk tahun 2020, Badan Ekonomi Kreatif pernah menyatakan bahwa sektor Ekonomi Kreatif akan memberikan kontribusi sebesar Rp 1300 triliun. Meski demikian, angka tersebut mustahil untuk diraih mengingat Pandemi Covid-19 menyerang langsung sektor Ekonomi Kreatif sehingga banyak pelaku Ekonomi Kreatif yang gugur.

Tantangan demi tantangan dihadapi pelaku Ekonomi Kreatif. Meskipun banyak yang meninggalkan usahanya, tetapi masih banyak pelaku Ekonomi Kreatif yang tetap berjuang. Dalam menghadapi Pandemi Covid-19, pemerintah menerapkan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) sehingga mayoritas kegiatan dijalani di rumah.

Sebagian pelaku Ekonomi Kreatif menjawab tantangan itu, mereka beradaptasi dengan kebijakan agar tetap dapat produktif berjualan. Namun begitu, pelaku Ekonomi Kreatif masih perlu beradaptasi ketika kebijakan PSBB sudah ditiadakan.

Bapak Presiden Republik Indonesia, Joko Widodo, mengatakan bahwa masyarakat perlu beradaptasi dengan Pandemi Covid-19. Pernyataan tersebut bertujuan agar laju ekonomi di Indonesia dapat meningkat. Apa yang dikatakan oleh Bapak Presiden dapat dikenal dengan istilah ‘New Normal’.

Istilah New Normal pertama kali diperkenalkan ole Roger McNamee pada tahun 2003. Menurutnya, New Normal adalah suatu kondisi di mana kemungkinan besar manusia bersedia bermain dengan aturan baru untuk jangka panjang.

Sedangkan dalam Wikipedia, New Normal adalah istilah ekonomi yang mengacu pada kondisi keuangan setelah krisis pada tahun 2008. Istilah ini dipergunakan oleh para ekonom yang percaya bahwa ekonomi industri akan menjalani cara baru setelah krisis 2008. Kemudian istiliah ini digunakan untuk suatu kondisi yang awalnya tidak biasa menjadi hal yang biasa.

Kondisi Era New Normal yang Memengaruhi Ekonomi Kreatif

Dalam konteks Pandemi Covid-19, New Normal akan tercipta selama dan pascapandemi. Salah satu contoh New Normal yaitu berubahnya perilaku atau kebiasaan masyarakat. Sebelumnya masyarakat tidak terbiasa mencuci tangan secara menyeluruh, memakai masker, serta menggunakan hand sanitizer.

Namun, semenjak virus ini menyebar hal-hal tersebut menjadi hal yang biasa dan sangat dianjurkan untuk dilakukan. Kondisi New Normal tidak hanya mempengaruhi kehidupan manusia, namun juga mempengaruhi segala sektor yang ada seperti sektor Ekonomi Kreatif.

Pelaku Ekonomi Kreatif perlu beradaptasi dengan Pandemi Covid-19 sesegera mungkin. Berdasarkan Board of Innovation terdapat beberapa kemungkinan yang terjadi pada kondisi era New Normal yang memengaruhi Ekonomi Kreatif, antara lain:

  • Rusaknya Kepercayaan akan Kebersihan Produk

Dengan merebaknya virus Covid-19, konsumen akan lebih berhati-hati dalam memilih produk. Konsumen memerlukan bukti resmi atas higienitas produk. Beberapa sub sektor Ekonomi Kreatif di Indonesia mengeluarkan produk, oleh karena itu pelaku Ekonomi Kreatif perlu menyesuaikan dengan keadaan. Seperti mendesain ulang packaging menjadi lebih terlihat higienis, kemudian memberikan catatan kesehatan pribadi kepada konsumen, serta contact-free deliveries.

  • Bungkus Pulang atau Antar ke Rumah

Banyak bisnis retail dan distributor produk yang perlu mengubah ke system delivery. Oleh karena itu, pelaku Ekonomi Kreatif perlu solusi yang tepat untuk system delivery. Seperti contoh beberapa bisnis/usaha dikirim secara bersamaan ke satu alamat yang sama, kemudian VR Shopping yang bisa diterapkan oleh beberapa subsector Ekonomi Kreatif.

  • Berkurangnya Perhatian ke Industri Fashion

Manusia memerlukan identitas diri yang dapat dilihat oleh orang lain. Selama ini manusia menjadikan fashion atau busana sebagai salah satu identitas dirinya. Namun dengan adanya virus Covid-19 manusia akan lebih jarang berinteraksi secara langsung dengan manusia lain. Oleh karena itu pencarian identitas manusia akan berpindah dari fashion menjadi tampilan digital. Contoh tampilan digital sebagai identitas diri yaitu memperbaiki ruangan yang digunakan ketika live-stream seperti pengaturan cahaya ruangan, kamera yang digunakan, dan lainnya.

  • Solo Dining Booths

Merebaknya virus Covid-19 mengakibatkan sebagian masyarakat lebih berhati-hati terutama saat berinteraksi dengan orang lain. Oleh karena itu, pada era New Normal sebagian masyarakat akan membutuhkan solo dining booths untuk menjamin kesehatan atau higienitas produk yang disajikan. Selain itu, pelaku Ekonomi Kreatif juga dapat menerapkan Human-Free Interactions dalam bisnisnya. Seperti contoh pada sub sektor kuliner, dalam menerapkan Human-Free Interactions pemilik restoran dapat menggunakan pelayan robot.

Pelaku Ekonomi Kreatif memang perlu mempersiapkan segala kemungkinan yang akan terjadi. Saat ini tidak ada kepastian kapan Pandemi Covid-19 akan berakhir. Maka agar tetap produktif, pelaku Ekonomi Kreatif dapat menyesuaikan dengan keadaan saat ini. Sebab kondisi masih jauh dari prediksi kembali seperti sedia kala.


Leave a Reply